Nureazizah13'smith











{Maret 8, 2010}   Tugas Bahasa Indonesia 2 sesi pertama

Pengertian penalaran deduktif

Menurut buku karangan Ninik M Kuntarto penalaran deduktif ialah pokok pikiran atau kalimat utamanya diletakkan diawal paragraph.

Contoh paragraph deduktif :
Hingga saat ini test DNA masih tercatat sebagai metode paling mutakhir dalam mengungkap jati diri seseorang. Setelah ditemukan pada 1984 oleh pakar genetika universitas Leicester inggris, professor Alec Jeffrey, tes DNA menunjukan data akurat karena berbasis informasi genetika karena pangkalnya adalah karakteristik khas setiap manusia. Manusia tersusun dari sekitar 30 miliar kode genetika yang disebut deoxyrubo nucleid acid (DNA). Secara kimiawi kode-kode ini merupakan rangkaian pasangan basa thymin, adenine, guanine, dan cytosine. Akibatnya, tak seorangpun sepanjang sejarah memiliki kode DNA yang benar-benar identik. Namun secara permanent, ada kesamaan kode bagi manusia yang memiliki hubungan kekerabatan. Kesamaan ini terjadi secara kontinyu dan bersipat prinsipil. Untuk menguji identitas seseorang, misalnya cukup diambil 40 hingga 100 sekuen rantai genetika keluarga terdekatnya, biasanya ayah atau saudara kandungnya. Jika nyaris identik atau banyak sekali yang sama, jati diri seseorang dapat dipastikan ( Republika,2006:21)
Yang berhuruf tebal merupakan kalimat pokok yang diletakan diawal kalimat, yang merupakan sebuah penalaran deduktif.

Sumber lain mengenai penalaran deduktif yaitu:

Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (observasi empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar.

Metode deduktif
Metode berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.
Contoh: Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status sosial.
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Penalaran

Deduktif Mengemukakan satu pernyataan yang umum dan dituruti oleh fakta dan maklumat yang khusus.

Sumber : http://www.tutor.com.my/stpm/retorik.htm
Pengertian kesimpulan langsung

PENYIMPULAN LANGSUNG
Penalaran Oposisi
Oposisi merupakan pertentangan antara 2 pernyataan atas dasar pengolahan term yang sama. Oposisi dalam logika dibedakan atas dua macam, yaitu oposisi satu term atau oposisi sederhana atau juga disebut dengan oposisi simpel, dan oposisi dua term atau oposisi kompleks.
Oposisi simpel merupakan hubungan logik dua pernyataan tunggal atas dasar term yang sama, tetapi berbeda kualitas atau kuantitas atau berbeda kedua-duanya. Oposisi simpel dibedakan atas empat macam, yaitu oposisi kontrarik, oposisi subkontrarik, oposisi kontradiktorik, dan oposisi subalternasi.
1. Oposisi kontrarik ialah pertentangan dua pernyataan universal atas dasar satu term yang sama, tetapi berbeda kualitasnya.
2. Oposisi subkontrarik ialah pertentangan dua pernyataan partikular atas dasar satu term yang sama, tetapi berbeda kualitasnya.
3. Oposisi kontradiktorik ialah pertentangan antara dua pernyataan atas dasar term yang sama, tetapi berbeda dalam kuantitas dan kualitasnya.
4. Oposisi subalternasi ialah pertentangan antara dua pernyataan atas dasar satu term yang sama dan berkualitas sama, tetapi berbeda dalam kuantitasnya. Subalternasi ada dua macam: subimplikasi dan superimplikasi.
1. Subimplikasi ialah hubungan logik pernyataan partikular terhadap pernyataan universal atas dasar term yang sama serta kualitas sama.
2. Superimplikasi ialah hubungan logik pernyataan universal terhadap pernyataan partikular atas dasar term yang sama serta kualitas sama.
Oposisi kompleks merupakan hubungan logik 2 pernyataan atas dasar 2 term yang sama sebagai subjek dan predikat, yang secara singkat dirumuskan: perlawanan dua proposisi kategorik atas dasar term yang sama yang berbeda kuantitas atau kualitasnya atau berbeda kedua-duanya. Oposisi komplek sdibedakan atas 3 macam, yakni oposisi paralel, oposisi kontradiktorik, dan oposisi eksklusif. Dinyatakan oposisi paralel karena proposisi yang satu sejajar dan mengandaikan adanya proposisi yang lain, sedang dinamakan oposisi kontradiktorik karena antara proposisi satu dengan yang lainnya saling bertentangan penuh, dan dinamakan oposisi eksklusif karena antara 2 proposisi yang bertentangan itu saling menyisihkan.
1. Oposisi paralel merupakan hubungan dua pernyataan partikular dengan dua term yang sama tetapi berbeda dalam kualitasnya.
2. Oposisi kontradiktorik merupakan pertentangan dua pernyataan dengan dasar term yang sama namun berbeda kuantitas maupun kualitasnya, yang sering disebut juga kontradiksi.
3. Oposisi eksklusif merupakan pertentangan dua pernyataan universal kategorik yang berbeda kualitas atau pertentangan dua pernyataan yang berkualitas sama, tetapi berbeda kuantitasnya dengan term-term yang sama.
Berdasarkan oposisi kompleks ada 2a penyimpulan yang dapat dirumuskan, yaitu penyimpulan bentuk negasi kontradiksi dan penyimpulan implikasi:
1. Negasi kontradiksi, yaitu 2 pernyataan yang kontradiksi jika salah satu diingkari akan mewujudkan suatu persamaan arti, hal ini menjadi suatu kaidah.
2. Penyimpulan implikasi jika suatu keseluruhan mempunyai sifat tertentu maka bagian dari keseluruhan itu juga mempunyai sifat tersebut, dan jika mengingkari maka bagiannya pun mengingkari.

Penalaran Edukasi
Eduksi merupakan penyimpulan langsung dari suatu proposisi ke proposisi lain dengan pengolahan term yang sama. Pengolahan term dalam eduksi dapat juga berbentuk penukaran kedudukan term atau berbentuk menegasikan term atau juga gabungan keduanya. Penalaran eduksi ini secara sederhana ada 3 macam, yaitu konversi, inversi, dan kontraposisi. Proposisi yang sebagai pangkal-pikirnya adalah tujuh macam proposisi berhimpunan yang merupakan penjabaran dari empat macam proposisi kategorik, yakni universal afirmatif ekuivalen, universal afirmatif implikasi, universal negatif eksklusif, partikular afirmatif inklusif, partikular afirmatif implikasi, partikular negatif inklusif, dan partikular negatif implikasi.
Konversi merupakan penyimpulan langsung dengan cara menukar kedudukan subjek dan predikat dari suatu proposisi tanpa mengubah makna yang dikandungnya. Menukar kedudukan yang dimaksud di sini ialah, term sebagai subjek dalam premis menjadi predikat dalam kesimpulan, dan sebaliknya term sebagai predikat dalam premis menjadi subjek dalam kesimpulan. Penyimpulan bentuk konversi kuantitas proposisi ada yang sama dan ada yang berubah atau dengan kata lain konversi sama kuantitas dan konversi beda kuantitas.
Inversi merupakan penyimpulan langsung dengan cara menegaskan subjek dan predikat pada suatu proposisi. Inversi ini ada 2 macam, inversi penuh dan inversi sebagian. Inversi penuh, yaitu mengasikan subjek dan predikat dari proposisi semula. Inversi sebagian, yaitu menegasikan subjek dan menetapkan predikat dari proposisi semula.
Kontraposisi merupakan penyimpulan langsung dengan cara menukar kedudukan subjek dan predikat serta menegasikannya. Kontraposisi juga ada dua macam, sama seperti inversi, yakni kontraposisi penuh dan kontraposisi sebagian. Kontraposisi penuh ialah menukar kedudukan subjek dan predikat serta menegaskan keduanya dari proposisi semula. Kontraposisi sebagian ialah menukar kedudukan subjek dan predikat serta hanya menegasikan predikat proposisi semula menjadi subjek dalam kesimpulan.

SILOGISME KATEGORIK
Prinsip-prinsip Penyimpulan
Penyimpulan tidak langsung, struktur penalarannya diwujudkan dalam bentuk silogisme, yaitu yang secara umum diartikan dengan susunan pikir. Silogisme merupakan salah satu bentuk penyimpulan deduktif yang sering digunakan, baik dalam kehidupan sehari-hari dalam suatu perbincangan maupun dalam bentuk penelitian-penelitian ilmiah. Khusus silogisme kategorik sebagai salah satu bentuk penyimpulan tidak langsung dirumuskan sebagai “Suatu bentuk penyimpulan berdasarkan perbandingan dua proposisi yang di dalamnya terkandung adanya term pembanding dan yang dapat melahirkan proposisi lain sebagai kesimpulannya.
Dalam penyimpulan bentuk silogisme kategorik ada tujuh prinsip yang harus diikuti, 3 prinsip atas dasar konotasi term, dan 4 prinsip atas dasar denotasi term, yaitu berikut ini.
1. Hukum pertama. Dua hal yang sama, apabila yang satu diketahui sama dengan hal ketiga maka yang lain pun pasti sama.
2. Hukum kedua. Dua hal yang sama, apabila sebagian yang satu termasuk dalam hal ketiga maka sebagian yang lain pun termasuk di dalamnya.
3. Hukum ketiga. Antara 2 hal, apabila yang satu sama dan yang lain berbeda dengan hal ketiga maka dua hal itu berbeda.
4. Hukum keempat: Jika sesuatu diakui sebagai sifat sama dengan keseluruhan maka diakui pula sebagai sifat oleh bagian-bagian dalam keseluruhan itu.
5. Hukum kelima. Jika sesuatu diakui sebagai sifat sama dengan bagian dari suatu keseluruhan maka diakui pula sebagai bagian dari keseluruhan itu.
6. Hukum keenam. Apabila sesuatu hal diakui sebagai sifat yang meliputi keseluruhan maka diakui pula sebagai bagian dari keseluruhan itu.
7. Hukum ketujuh. Apabila sesuatu hal yang tidak diakui oleh keseluruhan maka tidak diakui pula oleh bagian-bagian dalam keseluruhan itu.
Metode lain untuk menentukan sah tidaknya kesimpulan dalam silogisme, selain menggunakan tujuh prinsip tersebut dapat dirumuskan suatu cara untuk menentukan kepastian kesimpulan dari suatu silogisme dalam diagram himpunan hanya satu bentuk”. Satu bentuk yang dimaksudkan di sini adalah satu bentuk logik. Prinsip penyimpulan praktis ini dapat juga dinyatakan bentuk kontrapositifnya sebagai berikut: “Suatu silogisme jika dilukiskan dalam diagram himpunan lebih satu bentuk maka kesimpulannya tidak pasti”.
Silogisme Beraturan
Silogisme kategorik adalah suatu bentuk penyimpulan berdasarkan perbandingan dua proposisi yang di dalamnya terkandung adanya term pembanding dan yang dapat melahirkan proposisi lain sebagai kesimpulannya. Dirumuskan juga: penalaran berbentuk hubungan 2 proposisi kategorik yagn terdiri atas tiga term sehingga melahirkan proposisi ketiga sebagai kesimpulannya. Dalam definisi di atas jelaslah bahwa silogisme kategorik harus terdiri atas 3 term, hal ini merupakan suatu prinsip sehingga silogismenya disebut dengan silogisme beraturan. Jadi silogisme beraturan adalah hanya terdiri atas tiga term.
Dengan memperhatikan kedudukan term pembanding, dalam premis pertama maupun dalam premis kedua maka silogisme kategorik dapat dibedakan antara empat bentuk atau empat pola, yaitu berikut ini.
1. Silogisme Sub-Pre: Suatu bentuk silogisme yang term pembandingnya dalam premis pertama sebagai subjek dan dalam premis kedua sebagai predikat.
2. Silogisme Bis-Pre: Suatu bentuk silogisme yang term pembandingnya menjadi predikat dalam kedua premis.
3. Silogisme Bis-Sub: Suatu bentuk silogisme yang term pembandingnya menjadi subjek dalam kedua premis.
4. Silogisme Pre-Sub: Suatu bentuk silogisme yang term pembandingnya dalam premis pertama sebagai predikat dan dalam premis kedua sebagai subjek.
Dalam membandingkan 2 proposisi kategorik yang sebagai premis silogisme, proposisi pertama dapat bergantian antara 5 macam sebagaimana yang telah dibicarakan di atas, dibandingkan dengan proposisi kedua yang bergantian juga antara lima macam maka tiap satu bentuk silogisme kategorik ada 5 ´ 5 macam, yaitu ada 25 macam silogisme, tetapi secara terperinci sebenarnya ada 7 ´ 7 berarti tiap bentuk ada 49 macam. Berdasarkan hasil pembuktian dengan diagram himpunan, dari 25 macam tiap bentuk silogisme, hanya 13 mempunyai kesimpulan tepat dan pasti, adapun yang lainnya tidak dapat dipastikan kesimpulannya. Semua silogisme yang pasti ini merupakan penerapan 7 hukum dasar penyimpulan ke bentuk-bentuk silogisme dengan mengikuti sistem konversi.
Silogisme Tidak Beraturan
Silogisme tidak beraturan yang merupakan kumpulan berbagai ragam silogisme, yaitu silogisme kategorik yang proposisinya ada yang tidak dinyatakan atau berkait-kaitan atau juga bentuk silogisme yang terdiri atas beberapa silogisme yang berkaitan. Silogisme tidak beraturan semuanya dapat dikembalikan ke bentuk silogisme yang beraturan, adapun yang berkaitan dapat juga diuraikan secara bertahap. Silogisme tidak beraturan ada empat macam, yaitu entimema, epikirema, sorites, dan ada juga yang disebut dengan polisilogisme. Semua ini akan dibicarakan satu per satu secara jelas.
Penalaran bentuk entimema hanya menyebutkan premisnya saja tanpa ada kesimpulan karena dianggap sudah langsung dimengerti kesimpulannya atau sudah disebutkan terlebih dahulu. Dan sering juga menyebutkan premis pertama dengan kesimpulan atau premis kedua dengan kesimpulan. Semua ini menunjukkan bahwa dalam penalarannya itu ada proposisi yang diperkirakan atau tidak dinyatakan. Entimema didefinisikan sebagai berikut. Entimema adalah suatu bentuk silogisme yang hanya menyebutkan premis atau kesimpulan saja atau keduanya, tetapi ada satu premis yang tidak dinyatakan. Penalaran dalam bentuk entimema proposisi yang tidak dinyatakan ada 4 kemungkinan, yaitu entimema dari silogisme yang premis pertamanya ditiadakan, entimema dari silogisme yang premis keduanya ditiadakan, entimema dari silogisme yang kesimpulannya diperkirakan karena langsung dapat diketahui, entimema dari silogisme yang kedua premisnya diperkirakan karena dianggap sudah diketahui.
Penalaran bentuk epikirema didefinisikan secara jelas sebagai berikut. Epikirema adalah suatu bentuk silogisme yang salah satu atau kedua premisnya disertai dengan alasan. Premis yang disertai dengan alasan itu sebenarnya merupakan kesimpulan dari suatu silogisme tersendiri yang berbentuk entimema. Penalaran bentuk epikirema ini banyak dijumpai dalam buku-buku maupun percakapan sehari-hari. Adapun premis-premisnya yang berbentuk entimema sering dinyatakan kesimpulannya terlebih dahulu daripada premisnya atau mendahulukan akibat dari sebab.
Penalaran bentuk sorites didefinisikan: suatu bentuk silogisme yang premisnya berkait-kaitan lebih dari dua proposisi sehingga kesimpulannya berbentuk hubungan antara salah satu term proposisi pertama dengan salah satu term proposisi terakhir yang keduanya bukan term pembanding. Sorites pada dasarnya ada dua macam, yaitu sorites progresif dan sorites regresif. Sorites progresif, yaitu suatu perbincangan mengarah maju dari term yang tersempit sampai pada yang terluas, sedang kesimpulannya adalah hubungan antara subjek dari premis pertama dengan predikat dari premis terakhir. Sorites regresif, yaitu suatu perbincangan mengarah balik dari term yang terluas menuju yang tersempit, sedang kesimpulannya merupakan hubungan antar subjek dari premis terakhir dengan predikat dari premis pertama. Penalaran bentuk sorites dapat diambil kesimpulan secara pasti, jika memenuhi syarat-syarat sebagai berikut.
1. Jika dalam perkaitan itu lingkungan term berjalan dari term yang luas meliputi term yang sempit maka perkaitan selanjutnya tidak boleh dibalik, walaupun term tersebut sebagai subjek atau predikat.
2. Jika dalam perkaitan itu lingkungan term berjalan dari term yang sempit termasuk dalam lingkungan term yang luas maka perkaitan selanjutnya tidak boleh dibalik, baik term tersebut sebagai subjek maupun predikat.
3. Jika dalam perkaitan itu ada negasi maka yang menegasikan atau yang dinegasikan harus term yang lebih luas, hal ini berdasarkan prinsip ketujuh.
4. Jika dalam perkaitan itu tiap proposisi sebagai premis berbentuk ekuivalen maka sampai proposisi tak terhingga pun kesimpulannya tetap berbentuk ekuivalen, hal ini berdasarkan prinsip pertama kaidah silogisme.
Penalaran bentuk polisilogisme secara singkat didefinisikan sebagai berikut: polisilogisme adalah suatu bentuk penyimpulan berupa perkaitan silogisme sehingga kesimpulan silogisme sebelumnya menjadi premis pada silogisme berikutnya. Bentuk penalaran polisilogisme pada dasarnya merupakan uraian terperinci bentuk sorites, yang tiap tahap diberi kesimpulan tersendiri sehingga merupakan silogisme bertumpuk atau silogisme berkaitan. Perbedaan pokok antara sorites dengan polisilogisme, yaitu Dalam penalaran bentuk sorites yang berkaitan adalah premisnya, dan dalam penalaran bentuk polisilogisme yang berkaitan adalah silogisme.
Sumber Buku Logika karya Noor Muhsin Bakry



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

et cetera
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: